Agustus selalu datang dengan ritual yang hampir sama: merah putih dipasang, upacara digelar, lagu kebangsaan dinyanyikan, lalu kita ramai-ramai mengucapkan: Merdeka!


Tetapi tahun ini ada yang menarik. Yang ramai bukan hanya lomba makan kerupuk atau panjat pinang. Media sosial justru sibuk memperdebatkan upacara, fasilitas pejabat dan rakyat, soal bendera, sampai berbagai peristiwa yang menyentuh simbol negara. 


Barangkali kita sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar ribut soal upacara.

Kita sedang melihat keresahan.

Orang yang berdiri kepanasan sementara sebagian lainnya duduk nyaman di bawah tenda, misalnya, sebenarnya bukan perkara tenda. Tenda hanya menjadi simbol. Yang membuat orang terusik adalah perasaan: “Kok begini-begini amat?”


Di tengah harga kebutuhan yang naik, lapangan pekerjaan yang tidak selalu mudah, dan penghasilan yang kadang hanya cukup untuk membuat kita bertahan sampai tanggal gajian berikutnya, pemandangan kecil bisa berubah menjadi perkara besar.


Kemerdekaan kemudian terasa seperti pertanyaan:

Sudah merdeka dari apa, dan sudah merdeka untuk siapa?

Kalimat “saya belum merdeka” dari seorang warga juga menarik. Kita bisa saja buru-buru menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan. Tetapi mungkin kita perlu mendengarkan lebih dulu. 


Sebab terkadang orang tidak sedang membenci negaranya. Ia sedang mengeluhkan hidupnya.

Dan di sinilah pemerintah harus mampu membedakan antara orang yang sedang memusuhi negara dengan rakyat yang sedang meminta negara bekerja lebih baik.


Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: algoritma.

Hari ini kita tidak perlu pergi ke alun-alun untuk menemukan kemarahan. Cukup buka ponsel.

Lima detik pertama kita melihat orang marah.
Lima detik berikutnya orang lain ikut marah.
Lima menit kemudian kita merasa seluruh Indonesia sedang marah.


Padahal bisa jadi yang marah hanya beberapa orang, tetapi algoritma membuatnya tampak seperti satu bangsa sedang terbakar.

Kita melihat potongan video, lalu merasa tahu seluruh cerita.

Membaca satu unggahan, lalu merasa sudah menjadi ahli.

Melihat judul berita, lalu langsung menjadi hakim.


Inilah zaman ketika jempol kadang lebih cepat daripada akal.

Karena itu, kritik tetap perlu. Pemerintah bukan malaikat. Pejabat bukan manusia tanpa salah. Kebijakan boleh dipertanyakan. Ketidakadilan harus dilawan.

Tetapi kritik kepada pemerintah jangan berubah menjadi kebencian kepada Indonesia.

Pemerintah bisa berganti. Menteri bisa berganti. Presiden bisa berganti. Kebijakan bisa diperbaiki.


Tetapi Indonesia?

Ini rumah kita.

Kalau atap rumah bocor, ya diperbaiki. Bukan rumahnya yang dibakar.

Begitu pula dengan simbol negara. Merusaknya tidak otomatis membuat persoalan selesai. Justru kita perlu bertanya: apa yang membuat seseorang sampai marah, dan apakah cara menyampaikan kemarahannya benar?

Di sinilah pemuda Ansor semestinya mengambil posisi.


Bukan menjadi generasi yang setiap pagi bangun tidur langsung membuka media sosial untuk mencari siapa yang harus dimarahi.


Kita harus menjadi generasi yang mampu berkata:

“Sebentar. Saya baca dulu.”

Cek informasi. Cari konteks. Dengarkan pihak lain. Baru mengambil sikap.

Sebab perjuangan hari ini mungkin tidak selalu berbentuk mengangkat senjata.

Kadang perjuangan itu sesederhana melawan kemalasan berpikir.

Melawan hoaks.

Melawan provokasi.

Melawan ketidakpedulian.


Dan melawan godaan untuk menjadi terkenal hanya karena ikut-ikutan marah.

Kemerdekaan bukan berarti bebas berbuat apa saja. Kemerdekaan selalu datang bersama tanggung jawab.

Kalau ada ketidakadilan, perjuangkan.

Kalau pemerintah salah, kritik.

Kalau masyarakat membutuhkan bantuan, hadir.

Kalau keadaan buruk, jangan hanya membuat status.


Kerjakan sesuatu.

Sebab negeri ini tidak kekurangan orang yang pandai mengeluh. Yang sering kurang adalah orang yang mau ikut memperbaiki.

Maka di bulan kemerdekaan ini, mungkin pertanyaan paling penting bukan:

“Apa yang sudah negara berikan kepada saya?”


Tetapi:

“Apa yang sudah saya berikan kepada negeri ini?”

Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika penjajah pergi.

Kemerdekaan adalah ketika manusia bisa hidup bermartabat, memperoleh keadilan, punya kesempatan untuk tumbuh, dan tidak merasa menjadi orang asing di rumahnya sendiri.


Dan satu lagi:

Jangan sampai kita merdeka dari penjajahan, tetapi justru dijajah algoritma.

Merdeka!



Penulis: Petugas Nyekel Duwek, PAC GP Ansor Kedamean


Tulis Komentarmu Di Sini

Lebih baru Lebih lama